Senin, 12 Desember 2011

Cerita di Balik 9 Desember


Hari ini 9 Desember 2011, jam di dinding menunjukkan pukul 10.30, kulangkahkan kakiku menuju halte Bus Trans Jogja. Hari ini saya akan ke kantor Ori. Tak terlalu lama saya menunggu, Bus 2B sudah tiba, “tumben”, kataku dalam hati, bus yang kutumpangi tak terlalu penuh, kemudian saya diminta transit di halte Gramedia untuk ganti Bus 3A, namun ketika sampai di halte ini, penumpangnya sempat melonjak, maklumlah jalur ini menuju Malioboro dan hari ini kan Sabtu, orang-orang pada ingin rekreasi. Tak terasa bus yang kutumpangi telah sampai di halte dekat kantor Ori.
Karena halte bus berada di seberang kantor Ori, maka untuk sampai di kantor Ori harus menyeberang. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya saya ketika orang-orang yang antri begitu berjubel, mulai dari yang muda, ibu-ibu, bapak-bapak, mas-mas, semua duduk dengan rapi sabar menunggu antrian. Karena saya telah memesan produk melalui website, jadi saya tidak terlalu lama menunggu antrian, sambil saya menunggu antrian, kucoba ngobrol-ngobrol dengan orang di sampingku, kucoba membuka pembicaraan.
“Sudah berapa lama mbak ikut gabung?” tanyaku.
“Baru dua bulan, mbak” jawabnya.
Karena pertanyaan ini mengusik pikiranku, segera kulontarkan.
            “Sudah level berapa mbak?” tanyaku.
Dengan semangat ia langsung menjawab.
            “9 % mbak,” katanya.
            “Wah, hebat baru dua bulan sudah level segitu,” pujiku.
            “Mbak, masih kuliah atau sudah kerja,” tanyaku.
            “Saya sudah kerja mbak, dan sudah menikah, menikahnya baru 9 bulan tapi masih kelihatan kecil, soalnya saya menikah muda umur 23 tahun, daripada pacaran, nanti trus selingkuh, memang sih, menikah juga ada kemungkinan untuk selingkuh,” ceritanya meluncur begitu saja tanpa ada halangan.
Saya pun hanya sebagai pendengar, dan sesekali menanggapi. Sebenarnya, bagi saya sendiri tidak terlalu penting ceritanya dia, tapi yang paling penting usahanya bisa mencapai level sekian itu dalam waktu yang relative singkat. Saya sendiri heran dibuatnya. Karena pertanyaan ini benar-benar mengusik di kepalaku, kuajukan pertanyaan ini.
            “Gimana caranya mbak, kok bisa secepat itu naik level?” tanyaku sedikit penasaran.
            “Kalau saya biasanya sebar katalog di tempat-tempat umum, mall, sekolah, warung makan, dan kebetulan besok itu ada aksi donor darah, dihadiri anggota DPR, saya izin ke panitianya mau sebar katalog, eh panitianya boleh, ya sudah, akhirnya besok saya sebarin katalog. Makanya mbak, hari saya mau beli 300 katalog, lumayan lah untuk invest, daripada inves yang ga bener” ceritanya meluncur bagai peluru. Beberapa saat kemudian masing-masing terdiam sepertinya memikirkan sesuatu hingga kemudian kita sudah berpisah, karena saya sendiri sudah berada di depan kasir. Kemudian saya melanjutkan langkahku menuju lantai dua untuk mengambil barangnya. Wah, di lantai dua sama persis keadaannya dengan di lantai satu, sama antriannya malah lebih banyak. Kuperhatikan sekitarnya, wah, wajahnya manyun, pada bosen semua! Maklumlah sudah lama menunggu, tapi pesenannya belum ada, harus antri. Di sisi agak belakang ada seorang ibu yang menarik perhatianku daripada bosen saya iseng saja mengajak ngobrol ibu itu.
            “Sudah berapa lama ibu bergabung? Tanyaku.
            “Satu tahun mbak,”jawabnya.
            “Sudah level berapa bu?” tanyaku.
            “Level 15 %, saya dulu jualan soto mbak, di situ ada pelanggan saya sodorin aja katalog, saya sendiri daftar di Ori bulan Desember, baru bulan Maret saya mulai paham, saya sebarin katalog, karena tidak tahu harus ngapain, wong yang klik atau memberitahu anak saya, sampai saat ini saya gak tahu kalo suruh klik, semua anak saya yang ngerjain, wong ada downline  ditaruh dimana juga anak saya, nanti kalo udah ditransfer bonusnya, saya dikasih tahu,”jawab ibu ini bercerita dengan semangat.
            Cerita tidak hanya sampai di sini, di sisi yang lain ada seorang cowok berkaos putih, memakai celana jins warna biru, menurut ceritanya ia sudah mencapai level 18% dalam satu tahun. Hal ini  yang membuat saya heran, bisnis ini ternyata diminati oleh kaum lelaki tak hanya kaum perempuan saja, padahal ini produk-produk kecantikan, memang sih ada produk untuk kaum lelaki juga.
Cerita-cerita di atas benar-benar menginspirasiku bahwa bisnis ini bisa dijalankan tergantung masing-masing orang, mau yang laki-laki, yang muda, ibu-ibu, mahasiswa, mau cara lamban atau cara cepat, yang terpenting adalah semangat, semangat untuk belajar dan belajar. Aku sendiri jadi yakin saya bisa seperti mereka karena diberi kesempatan dan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk sampai di sana. Ayo, Anda pun pasti bisa.

Sabtu, 10 Desember 2011
Jam 11.00 waktu Ori

Permainan Baru

Waktu itu, di siang hari yang terik, saya mencoba membuka internet. Niatnya, sih pingin cari informasi tentang resep baru, eh ga tahunya masuk ke dbc network. Ya, sudah akhirnya saya masuk ke web tersebut. 
Saya coba deh, isi form yang ada di sana, kemudian saya dikirimi email balasan sampai akhirnya saya bener-bener yakin bahwa bisnis ini bisa dijalankan. Kemudian saya mulai mendaftar, tepatnya 19 Oktober 2011 dan waktu itu biaya pendaftarannya Rp 39.900. Tiga hari kemudian saya mendapat starter kit, saya coba baca-baca kayak apa sih bisnis ini? Ternyata ketika saya mendaftar dan bergabung, saya merasa seperti menemukan permainan baru. Kok bisa saya menyebutnya seperti itu? Lha iya, bagai sebuah permainan saya dibuat dari hari ke hari semakin penasaran dan ingin memecahkan permainan ini. Mulai dari level satu, teknik dan tantangan apa yang harus saya lakukan untuk masuk ke level berikutnya, masuk level dua ada lagi teknik dan tantangannya lagi, saya jadi penasaran dibuatnya.
Kemudian di hari pertama gabung saya mendapat training lewat online, saya baca sambil dipraktekkan, eh benar saya mendapatkan hal yang baru. Dari sini saya dapat ilmu baru, dapat kawan baru, diperkenalkan istilah upline, downline, prospek, cara beriklan melalui online, semua itu gratis alias tidak bayar. Kemudian saya diperkenalkan dengan upline saya namanya mbak Nora, lewat beliau saya jadi belajar bagaimana beriklan, mencari prospek, membimbing donline. Tak hanya dari mbak Nora, saya juga dapat ilmu dari upline yang lain,  salah satunya mbak Dini Shanti, lewat beliau jugalah virus yang namanya semangat menular dalam diriku. Puji Tuhan, sampai hari ini saya masih bertahan dan berjuang untuk memenangkan permainan ini. Benar-benar permainan yang menakjubkan, terima kasih mbak Dini, Mbak Nora, terima kasih tak terhingga buat semuanya.

Kamis, 27 Oktober 2011

Semut

Hai, “siang hari gini, kalian mau kemana?” tanya seekor cicak kepada segerombolan semut yang kebetulan melintas di depan cicak.
“Kami mau ke istana, kata semut, untuk mempersembahkan makanan ini kepada ratu.”
“Ck, ck…kalian hebat ya membawa makanan sebesar ini?” komentar,  cicak keheranan.
“Gak juga kok, kami kan bawanya bergotong-royong, kami angkat bersama-sama, jadi makanan yang kami bawa terasa ringan,” sahut semut.
“Yuk, cicak kami duluan ya..karena sang ratu sudah menunggu nih!”
“Ok, hati-hati ya..?”
“Ok, terima kasih”.
Sebuah catatan
Apa yang dapat kita pelajari dari segerombolan semut?
-          Perhatikan ketika seekor semut bertemu dengan temannya, ia akan berhenti sejenak untuk bertegur sapa, dari sini kita belajar menyapa, walau hanya menanyakan kabar.
-       Ketika mengangkut makanan, seekor semut tidak akan mengangkut sendirian, ia pasti mengajak teman-teman untuk membantu, bekerja sama, agar pekerjaan itu terasa ringan. Dari sini, kita belajar bekerja sama, saling membantu, saling mendukung, agar apa yang kita kerjakan terasa ringan
-      Semut hidupnya tak pernah sendiri, ia hidup berkelompok, berkoloni. Dari sini kita belajar, hidup tak hanya untuk diri kita sendiri tetapi hidup kita juga untuk orang lain, kelompok, hidup menjadi lebih berarti ketika hidup kita berguna  bagi orang lain. 
-   Ajaran semut ini juga berlaku di dbc network, kita juga belajar bekerja sama, agar bisa sama-sama merasakan naik level. Kita belajar dalam tim, gimana tim kita menjadi tim yang solid.